Rabu, 06 April 2016

PANCA ETIKA PENYULUH PERTANIAN



1.    Penyuluh pertanian beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta senantiasa menghormati dan memperlakukan petani – nelayan beserta keluarganya sederajat dengan dirinya.
2.    Penyuluh Pertanian senantiasa menempatkan keinginan dan kebutuhan petani – nelayan sebagai dasar utama pertimbangan dalam mengembangkan program apapun bersama petani – nelayan beserta keluarganya.
3. Penyuluh Pertanian senantiasa lugas, tulus dan jujur dalam menyampaikan informasi, saran ataupun rekomendasi dan bertindak sebagai motivator, dinamisator, fasilitator serta katalisator dalam membimbing petani – nelayan beserta keluarganya.
4.    Penyuluh Pertanian senantiasa memiliki dedikasi dan pengabdian untuk membela kepentingan petani – nelayan atas dasar kebenaran serta dalam melaksanakan tugas senantiasa memperlihatkan perilaku teladan, serasi, selaras dan seimbang kepada semua pihak.
5.   Penyuluh pertanian senantiasa memelihara kesetiakawanan dan citra korps Penyuluh Pertanian atas prinsip “silih asuh – silih asis dan silih asah” serta senantiasa bersikap dan bertingkah laku yang menghormati agama, kepercayaan, aturan, norma dan adat istiadat setempat.
PPL dan Petani terlihat sederajat

PPL tidak mengenakan atribut PNS agar petani tidak minder


       Nah, setelah kita mengetahui lima point di atas diharapkan Penyuluh Pertanian sudah bisa mengambil sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.

Jumat, 01 April 2016

SEPATU BARU UNTUK INDAH



     Mewi, adik indah sedang menari-nari di depan ibu sambil mengenakan sepatu barunya. Sepatu baru itu pemberian kak eric, seorang Penyuluh Pertanian Lapang, yang juga mengajar bidang study Muatan Lokal Pertanian dan Bahasa Inggris di sekolahnya. Bukan saja Mewi yang mendapat sepasang sepatu baru, tetapi masih ada 22 anak lainnya mendapatkan masing-masing sepasang sepatu baru pula.
     Indah melirik sepasang sepatunya yang sudah tua, sepatu berbahan plastik datar dengan sedikit robekan di bagian belakangnya, di letakkan berdampingan dengan sepatu tua milik Mewi-disudut ruangan. Jika kak Eric melihat sepatuku itu, pastilah dia akan memberikan juga padaku sepasang sepatu baru, bisiknya dalam hati. Atau dia memberanikan diri saja untuk memintanya langsung pada kak Eric, oo tidak... itu bukan kebiasaannya untuk meminta-minta, indah menggelengkan kepalanya.
     Siang itu sangat panas, indah bersama teman seperjalanannya-sandra, sedang berjalan beriringan pulang ke rumahnya. Kedua gadis cilik ini berbagi segelas minuman yang telah di bekukan seharga lima ratus perak. Indah menengadah, membuka mulutnya untuk sekedar mencoba meneguk sedikit tetesan minuman dari gelas yang dipegang oleh sandra. Sepertinya segelas minuman itu punya si sandra. Tanpa mereka sadari, seorang wanita muda memperhatikan mereka dari kejauhan.
        “hei.. indah. Ayo mampir dulu!” sapa seseorang dari arah warung, indah berbalik, ternyata kak Eric. “Saya mau minta kamu menolong saya sebentar?” pinta kak Eric. Indah dan sandra menghentikan perjalanannya lalu ikut duduk di atas balai-balai di warung itu.
      Kak eric menyodorkan roti goreng, tetapi kedua anak itu saling pandang dan menggeleng kepalanya, “terimakasih kak!” kata indah mewakili.  “Ayo jangan malu-malu, makan mi. Nanti pi saya yang bayar.” Kembali kak Eric menawarkan. Mendengar kata ‘nanti pi saya yang bayar’, kedua bocah ini sangat girang lalu mengambil roti goreng dan memakannya. Kebetulan pada saat itu perut mereka sedari tadi sedang menyanyikan lagu keroncong, meminta untuk segera diisi. “begini indah, saya sudah mempunyai data anak-anak dusun  Alapan yang ber sekolah di sekolah jarak jauh. Sekarang saya ingin mengambil data anak-anak dusun Alapan yang bersekolah di SD induk. makanya itu saya perlu bantuan kamu. Siapa-siapa saja kah yang bersekolah di SD induk?” tanya kak Eric. 
Disela menikmati makanannya, indah menjawab dengan dialek setempat,” Dikelas lima ada Sambo, Andi, Andreas, Wahyudi, Yuyun dan si sandra ini. Sedang di kelas enam cuma ada ji Andri dan saya.”  Setelah menghabiskan kuenya, kak eric meminta ibu pemilik warung membungkuskan 4 potong roti goreng untuk indah. Dengan kaki berdebu tak berkaos kaki, dengan berjalan kaki, kedua gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya  delapan kilometer lagi untuk mencapai rumah mereka. 
Setiap hari indah bersama teman-temannya harus menempuh perjalanan sejauh 6 hingga 10 kilometer untuk bisa bersekolah. Tak ada becak, ojek atau bis yang membawa anak-anak pedalaman seperti indah kesekolah. Karena jalan-jalan penghubung dusun sangat jelek dan masih dalam tahap perintisan jalan. Walau begitu indah dan teman-temannya tetap bersemangat, meskipun kaki-kaki mereka sering kali lecet karena menempuh perjalanan yang sangat jauh itu. Tetapi semangat mereka patut di contoh, walaupun kita mempunyai banyak keterbatasan namun tidak membatasi mereka untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Dua minggu berlalu, sepulang sekolah, saat indah hampir dekat dengan rumahnya. Disela nafasnya yang ngos-ngosan karena menanjaki lereng gunung Alapa. Indah melihat Mewi berlari menyambutnya sambil berteriak-teriak.
“Kakak Indah, ada titipan dari kak Eric buatmu!!!”
“apa mi itu??” tanya indah penasaran.
“kayaknya sepatu, tetapi masih dibungkus dalam dos. Ayo kita buka sama-sama?”  bergegas mewi dan indah berlarian menuju rumah. Lalu indah melihat bungkusan itu tergeletak diatas meja. Dengan tak sabar, indah membuka bungkusan itu dan mendapati sepasang sepatu kets baru didalamnya, indah sangat senang sekali. Lalu mata indah melihat ada sebuah pesan di balik kardus sepatu itu, dan membacanya :
Yang rajin kesekolah ya indah
Fighting !!!
Indah langsung mencoba sepatu barunya, lalu berputar-putar dan menari-nari. Dia sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan karena telah mengirim orang yang baik hati kepadanya. Seorang Penyuluh pertanian lapang (PPL)  tetapi peduli akan peningkatan mutu pendidikan anak-anak Bangsa yang berada di pedalaman.
Lalu indah pun berkata dengan nyaring, “ good bye kaki lecet!!!”

KAMI MEMANGGILNYA IBU GURU PPL



    

     Wahyudi sudah mendengar dari teman-temannya, kisah seorang wanita baik hati yang beberapa bulan terakhir ini sering berkunjung ke sekolah jarak jauh tempatnya bersekolah saat dia masih duduk dikelas 1 hingga kelas 4 SD.
      Sekolah jarak jauh didirikan bagi anak-anak pedalaman, yang harus menempuh perjalanan hingga 10 kilometer untuk mencapai sekolah induk di pusat Desa. Sekolah itu hanya memiliki dua ruangan yang menampung empat puluh lima siswa(i)  dan di bagi dalam dua ruangan. Kelas satu dan kelas dua digabung dan di  bimbing oleh seorang guru, namanya ibu Agustina. sedangkan kelas tiga dan empat dibimbing oleh pak Safri.
      Berhubung karena wahyudi sudah di kelas lima, sudah besar dan kuat untuk berjalan kaki, maka anak yang sudah kelas lima dan enam  bersekolah di sekolah induk. Dan ini menjadi kendala buat wahyudi, karena dia harus berjalan kaki hingga 6 kilometer untuk mencapai sekolahnya. Disamping itu pula, yang membuat wahyudi frustasi adalah kemampuan daya pikirnya agak lambat dibanding anak-anak lain. Seharusnya bocah berumur 12 tahun saat ini sudah duduk di kelas enam Sekolah Dasar, tetapi karena kekurangan itu lah menjadikan dia tinggal kelas, dan duduk di kelas lima SD. Karena frustasi dengan keadaan seperti itu, tiga bulan ini wahyudi tidak pergi kesekolah lagi, dia memutuskan berhenti sekolah.
       Kembali kepada kisah wanita muda yang baik hati itu. Kata firman, namanya adalah kak eric. Dia seorang Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) tetapi peduli akan kemajuan mutu pendidikan Anak Bangsa.  Dia mengajarkan Muatan Lokal Pertanian dan Bahasa Inggris, bukan itu saja, kak eric juga mengajarkan cara mencuci baju di sungai yang letaknya berada di belakang sekolah, karena melihat baju si Firman sangat dekil. Bagaimana tidak dekil, baju si Firman sebulan tak perna dicuci lho  hahahahaaa.  
        Kisah yang paling mengharukan dari kak eric, saat dia membawa sepeda baru untuk Ronal. Kak Eric, sampai terjatuh dan tertindih  motornya karena sepeda yang di bonceng itu nyangkut di pohon kakao. Katanya sih dia tak terluka, Cuma kakinya saja yang lebam. Dan itu membuat Wahyudi penasaran, seperti apa wajah kak eric itu! 
        Kaki-kaki berdebu beralaskan sendal jerit, berlarian menyambut kedatangan kak eric. Tanpa di perintahkan, anak-anak memburu masuk kekelas masing-masing dan kak eric ikut masuk ke ruangan kelas tiga dan empat. Selang beberapa saat kemudian, wahyudi masuk kedalam kelas itu. Dia penasaran, kegiatan apa saja yang sedang berlangsung didalam kelas tersebut. Ternyata kak eric sedang duduk di kerumuni anak-anak dan mengambil data mereka satu persatu. Yang membuat wahyudi tertarik yaitu mereka merencanakan berkemah di dekat air terjun di atas gunung Alapan. Wah.. pasti sungguh mengasyikkan, pikir wahyudi.
“Kak, saya boleh ikut berkemah bersama kalian?” tidak sadar wahyudi mengajukan permohonan.
Kak eric berbalik kearahnya, “eee kamu kok  tidak ke sekolah?” tanyanya saat melihat wahyudi hanya memakai baju kaos oblong, celana pendek dan hanya memakai sendal jepit.
“Saya malas kesekolah kak. Saya berhenti mi sekolah.” Jawab wahyudi dengan dialek setempat.
“Kenapa berhenti sekolah? Masak anak cakep begini, mirip ki artis korea harus berhenti sekolah.” Tanya kak eric serius.
“anu ibu guru PPL, Wahyudi bodoh, tidak tahu pi membaca!” seorang anak menyelah dan membuat wahyudi tersenyum malu-malu.
“Benar tak tahu membaca, Masak sih?”                            
“Saya bisa ji membaca kak, tapi tidak lancar.”  Jawab Wahyudi cepat. “tapi bisa ji toh saya ikut berkemah?” dia bertanya lagi.
“aduhhh...” wajah kak eric kelihatan sedikit cemas, “Kalau tidak sekolah lagi, tidak diajaklah ikut berkemah. Karena kegiatan berkemah ini, kita akan memakai baju Pramuka.” kak eric menerangkan. “Bagaimana mau pakai baju Pramuka kalau kamu tidak bersekolah mi lagi?” kata kak eric seperti menyodorkan sebuah pertimbangan bagi wahyudi.
Dua minggu berlalu, saat kak eric monitoring ke kelompok tani Mesa Nyawa. Kak eric sangat kanget, terharu..entah apalah namanya perasaan itu, saat dia melihat tiga bocah melintas di hadapannya dan Wahyudi ada disana.
“Heii.. kamu.. sudah kesekolah mo ko lagi??” sapa kak eric disela perasaan terharu.
“Iya kak.. kan saya mau ikut berkemah!!!” kata wahyudi sambil terus berjalan dan bersenda gurau bersama kawan seperjanannya menuju kesekolah yang tinggal empat kilometer lagi. Wahhh..kak eric sampai ingin menangis mendengarnya. Ayo wahyudi, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya, jangan sampai terhenti karena harus berjalan kaki 6 kilometer saja. Fighting!!!!
 

Kamis, 31 Maret 2016

MENGENAL KELOMPOKTANI DI DESA RISO

Keadaan Wilayah Tanggung Jawab Penyuluhan Pertanian Desa Riso memiliki topografi 30 Meter diatas permukaan laut,  sehingga kerap kita banyak menjumpai perkebunan kakao yang luas di disana.
Desa Riso berada di Kecamatan Tapango yang luas desa
± 42.100 Km dan terbagi atas 5 dusun. desa Riso berjarak  dari ibukota Kecamatan Tapango, jarak dari Kantor Balai Penyuluhan
± 7 Km dan
± 34 km dari ibukota Kabupaten Polewali Mandar yang berbatasan dengan :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Palatta.
- Sebelah Timur be rbatasan dengan Desa Kalimbua.
- Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Matakali.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tapango.

Kelembagaan Kelompoktani yang ada di Desa Riso sudah mulai kuat dan mandiri. untuk itu, kita akan mengenal kelompoktan - kelompoktani tersebut ;
Kelompoktani Mesa Nyawa - Kelas Utama

Kelompoktani SIPATOKKONG - kelas Madya
Kelompoktani ALAPAN INDAH - kelas Lanjut
Kelompoktani RUKUN SEJAHTERA - Kelas Madya
Kelompoktani SIPARAPPE - Kelas Madya
Kelompoktani BUKIT HARAPAN - Kelas Lanjut
Kelompoktani HARAPAN JAYA - Kelas Pemula
Kelompoktani BUKIT BERBUNGA - Kelas Lanjut
Kelompoktani BUKIT SUBUR -Kelas Pemula
Kelompktani BUKIT CENDANA - Kelas Lanjut
Kelompoktani TARANGGE JAYA - Kelas Lanjut
Kelompoktani BORONG INDAH - Kelas Lanjut
Kelompoktani TAMMALANDRE - Kelas Lanjut
Kelompoktani SIPAKAINGA - Kelas Lanjut




     Demikianlah perkenalan beberapa kelompoktani yang ada didesa Riso. Mulai Kelompok yang Produktif hingga kelompoktani yang baru merangkak bangkit. kiranya menjadi perbandingan bagi kita dalam membina kelompoktani hingga kuat dan mandiri. Terimakasih.